Munajatlah Wahai Hamba Allah s.w.t.....

Sunday, October 10, 2010

Wanita Tua yang Hanya Mengunakan Ayat al-Quran ketika berbicara


Bismillahirrahmanirrahim.....
Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah saw. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian hitam yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa minit.
Dalam dialog tersebut wanita tua itu, setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun jawapannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Abdullah : “Assalamu’alaikum warahmatu Allahiwabarakaatuh.”
Wanita tua :
Ucapan salam sejahtera dari Tuhan Yang Maha Mengasihani. (Yaa Siin 56)
Abdullah : Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?”
Wanita tua :
Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya. (Al-A’raaf 186)
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.
Abdullah : “Kemana anda hendak pergi?”
Wanita tua :
Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari Masjid Al-Haraam (di Makkah) ke Masjid Al-Aqsa (di Palestin). (Al-Israa’ 1)
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa.
Abdullah : “Sudah berapa lama anda berada di sini?”
Wanita tua :
Selama tiga malam dalam keadaan sihat. (Maryam 10)
Abdullah : “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?”
Wanita tua :
Dialah Allah pemberi aku makan dan minum. (Asy-Syu’araa’ 79)
Abdullah : “Dengan apa anda melakukan wudhu?”
Wanita tua :
Bila tiada air maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah, debu yang bersih. (Al Maaidah 6)
Abdulah : “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?”
Wanita tua :
Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam, maghrib. (Al- Baqarah 187)
Abdullah : “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?”
Wanita tua :
Dan berpuasa itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. (Al- Baqarah 184)
Abdullah : “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?”
Wanita tua :
Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid. (Qaaf 18)
Abdullah : “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?”
Wanita tua :
Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan. (Al-Israa’ 36)
Abdullah : “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.”
Wanita tua :
Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu dan Dia lah jua Yang Maha Mengasihani daripada segala yang lain yang mengasihani. (Yusuf 92)
Abdullah : “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.”
Wanita tua :
Dan apa jua kebaikan yang kamu kerjakan adalah diketahui oleh Allah. (Al-Baqarah 197)
Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :
Wanita tua :
Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka. (An-Nuur 30)
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilakan ia mengendarai untaku.
Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap lagi.
Wanita tua :
Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri. (Asy-Syuura 30)
Selesai mengikat unta itu saya pun mempersilahkan wanita tua itu naik.
Wanita tua :
Maha Suci Tuhan yang telah memudahkan kenderaan ini untuk kami, sedang kami sebelum itu tidak terdaya menguasainya , Dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah, kami akan kembali. (Az-Zukhruf 13-14)
Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita tua itu berkata lagi.
Wanita tua :
Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu. (Luqman 19)
Lalu aku jadikan unta itu jalan dengan perlahan, sambil mendendangkan beberapa syair
Wanita tua :
Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil 20)
Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.”
Wanita tua :
Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu. (Al- Baqarah 269)
Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Apakah anda mempunyai suami?”
Wanita tua :
Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu. (Al Maaidah 101)
Maka aku senyap seketika sehingga berjumpa dengan kafilah di depan kami.
Abdullah : “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?”
Wanita tua :
Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia. (Al-Kahf 46)
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.
Abdullah : “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?”
Wanita tua :
Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk. (Al-Nahl 16)
Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.
Abdullah : “Adakah kamu kenal orang yang berada dalam kemah ini?”
Wanita tua :
Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang nabi yang dikasihi. (An-Nisaa’ 125)
Dan Allah berkata-kata kepada Musa. (An-Nisaa’ 164)
Wahai Yahya pelajarilah kitab itu bersungguh-sungguh. (Maryam 12)
Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.
Wanita tua :
Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa wang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu. (Al-Kahf 19)
Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :
Wanita tua :
Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu.(Al-Haaqqah 24)
Abdullah : “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”
Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :
“Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena bimbang tersalah bicara.”
Lalu Abdullah bin Mubarak berkata Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya dan berkata:
Yang demikian ialah limpah kurnia Allah, diberikanNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya; dan Allah sememangnya mempunyai limpah kurnia yang besar. (Al-Hadiid 21)
Dipetik dari kitab : KaifaTahfazul Quran ( DR Mustafa Murad )
Sumber: http://bit.ly/bh9nMf
Wallahualam.....

6 Minggu, 6 Bulan dan 6 Tahun Selepas Berkahwin


Bismillahirrahmanirrahim.....
Buat masa ini saya sedang aktif menyiapkan sebuah produk digital berkaitan grafik. Oleh itu masa amat mencemburi saya ketika ini. Ketika mencari-cari bahan untuk produk saya, saya terjumpa artikel ini..agak menarik dan menyeronokkan untuk dibaca. Jom berhibur!
SebelumTido:
6 minggu:  Selamat Tido Sayaaang, mimpi indah-2 ya, mmmuach.
6 bulan:  Tolong matikan lampu tu, silau aah.
6 tahun:  Sana sikit lah… Tido kalau tak mengepit tak bole ker???!
Pakai Toilet:

6 minggu: Tak apa, U masuk ler dulu, I tak kisaaahhhh
6 bulan: Masih lama lagi ke nih?
6 tahun: Brug! brug! brug! (suara pintu digegar), kalau nak bertapa pilah gunung ledang sana!!!
Balas SMS:
6 minggu: Iye Sayang, jap lagi I sampai rumah. Sayang, I belikan murtabak favourite U ye Sayang..
6 bulan: Trafik jam aah
6 tahun: K..
Dating process:
6 minggu: I love U, I love U, I love U.
6 bulan: Of course I love U.
6 tahun: Iyalah!! kalau I tak cintakan U, buat apa I nikah dengan U???
Pulang Kerje:
6 minggu: Sayaaang, I dah balik nih…
6 bulan : I’m BACK!!
6 tahun: Masak apa hari ini??
Hadiah (ulang tahun):
6 minggu: Sayang, I harap U suka cincin yang I beli untuk U ni
6 bulan: I beli lukisan, nampak sesuai dengan suasana ruang tengah
6 tahun: Nih duit, U beli sendirilah apa yg U nak..
Telefon:
6 minggu: Baby, ada yang ingin berbual ngan U di telefon nih
6 bulan: Eh… Your call…
6 tahun: WOOIII TELFON BUNYI TUUUHHH…. ANGKAT AAAAAHHH!!!
Masakan:
6 minggu: Wah, tak sangka I, pandai U masak.Rasa pun sedappp…!!!
6 bulan: Kita makan apa malam ini??
6 tahun: HAH!! LAUK INI LAGI?
Memaafkan:
6 minggu: Sudahlah, tak apa, dah pecah pun, nanti kita beli lagi yang lain,eh
6 bulan: Hati-hati, nanti jatuh tuh.
6 tahun: Orang dah bilang berkali-2 pon tak paham!!
Baju baru:
6 minggu: Aduh sayang, U seperti bidadari dengan pakaian itu
6 bulan: Lah… Beli baju baru lagi?
6 tahun: DAH BERAPA RIBU HABIS BELI BAJU TU???
Merancangkan Holiday:
6 minggu: Macam mana kalau kita jalan-jalan ke Amerika atau ke tempat yg U nak honey?
6 bulan: Kita ke Bukit Bintang aje ler… Senang sikit tak perlu naik flight…
6 tahun: JALAN-JALAN??? DUDUK RUMAH AJE TAK BOLEH KE? BUANG DUIT JE!

TV:
6 minggu: Baby, kita nak tengok cite apa malam ini?
6 bulan : Sekejap eh, citer bagus ah.
6 tahun: JANGAN TUKAR-2 BOLE TAK..
Wallahualam.....

Cara Memutuskan Hbngn Cinta

Bismillahirrahmanirrahim.....
Ini adalah sambungan daripada entri Jawapan: Cara Memutuskan Hubungan Cinta #1 Sila baca entri pertama dahulu untuk kefahaman lanjut.
Pelajar: Jadi manusia itu tak tahan diuji?
Ustaz: Kita manusia dari keturunan Adam dan Hawa, sejak awal penciptaan manusia, Allah telah mengingatkan manusia bahawa mereka tidak tahan dengan ujian walaupun kecil. Allah takdirkan satu peristiwa untuk iktibar manusia. Allah tegah Adam dan Hawa supaya jangan makan buah Khuldi dalam syurga. Allah tahu kelemahan pada ciptaan manusia. Tak tahan diuji. Oleh itu, Allah berpesan pada Adam dan Hawa, jangan hampiri pokok Khuldi. Firman Allah S.W.T.: “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu di dalam syurga serta makanlah dari makanannya sepuas-puasnya, apa sahaja yang kamu berdua sukai dan jangan hampiri pokok ini, (Jika kamu menghampirinya) maka akan menjadilah kamu dari orang-orang yang zalim.” (Al-A’araf:ayat 19).
Tegahan yang sebenarnya adalah memakan buah Khuldi. Tetapi Allah tahu sifat dan kelemahan Adam dan Hawa. Jika menghampiri perkara yang ditegah, takut nanti mereka akan memakannya kerana mereka tidak dapat mengawal diri. Demikianlah dengan zina. Ditegah zina. Maka jalan ke arah penzinaan juga dilarang. Takut apabila berhadapan dengan godaan penzinaan, kedua-duanya kecundang. Cukuplah kita belajar daripada pengalaman nenek moyang kita Adam dan Hawa.
Pelajar: Tetapi cinta lepas kahwin banyak masalah. Kita tak kenal pasangan kita secara dekat. Bercinta adalah untuk mengenali hati budi pasangan sebelum membuat keputusan sebelum berkahwin.
Ustaz: Boleh percaya dengan perwatakan masa sedang bercinta? Bercinta penuh dengan lakonan yang dibuat-buat dan kepura-puraan. Masing-masing akan berlakon dengan watak yang terbaik. Penyayang, penyabar, pemurah dan pelbagai lagi. Masa bercinta adalah alam lakonan semata-mata. Masa bercinta, merajuk ada yang akan pujuk. Jangan haraplah lepas kahwin bila merajuk ada yang memujuk. Banyak orang yang kecewa dan tertipu dengan keperibadian pasangan semasa bercinta. Perangai jauh berbeza. Macam langit dan bumi. Masa bercinta, dia seorang yang amat penyayang, sabar tunggu pasangan terlambat berjam-jam. Tapi bila dah kahwin lewat 5 minit dah kena tengking. Jadi, perwatakan masa bercinta adalah suatu kepuraan yang hipokrit.
Pelajar: Percayalah kami bercinta demi merancang kebahagiaan hidup nanti.
Ustaz: Bagaimana diharap kebahagiaan jika tidak mendapat redha Allah? Kebahagiaan adalah anugerah Allah kepada hamba-hambanya yang terpilih. Kebahagiaan bukan ciptaan manusia. Manusia hanya merancang kebahagiaan. Allah yang akan menganugerahkannya. Bagaimana mendapat anugerah kebahagiaan itu jika jalan mencapainya tidak diredhai Allah. Kebahagiaan hidup berumah tangga mestilah melalui proses yang betul. Sudah tentu prosesnya bukan cinta sebegini. Allah tidak meredhai percintaan ini. Cinta yang diredhai, cinta selepas kahwin. Bagaimana untuk mendapat keluarga yang bahagia jika langkah memulakannya pun sudah canggung. Bagaimana kesudahannya?
Pelajar:  Tanya sikit, adik angkat, kakak angkat, abang angkat boleh ke? Ganti bercinta.
Ustaz: Semua itu adalah perangkap syaitan . Hakikatnya sama. Cinta yang diberi nafas baru. Kulitnya nampak berlainan, tapi isinya sama. Adik, abang, kakak angkat adalah suatu bentuk tipu daya iblis dan syaitan. Manusia yang terlibat dalam budaya “angkat” ini sebenarnya telah masuk ke dalam perangkap syaitan. Cuma menunggu masa untuk dikorbankan.
Pelajar:  Jadi seolah-olah orang yang bercinta telah hilang maruah diri?
Ustaz: Mengukur maruah diri bukan ditentukan oleh manusia tetapi oleh Pencipta manusia. Sebab ukuran manusia sering berbeza-beza. Orang yang sedang mabuk bercinta mengatakan orang yang bercinta tidak menjejaskan apa-apa maruah dirinya. Manakala bagi orang yang menjaga diri, tidak mahu terlibat dengan cinta sebelum kahwin akan mengatakan orang yang bercinta sudah tidak bermaruah. Cintanya ditumpahkan kepada orang yang belum layak menerima cinta suci. Kalau begitu ukuran maruah atau tidak ditentukan oleh Allah.
Pelajar:  Adakah orang yang bercinta hilang maruah?
Ustaz : Antara kemuliaan manusia ialah maruah dirinya. Orang yang bercinta seolah-olah cuba menggadaikan maruahnya kerana mereka sedang menghampiri penzinaan. Manakala orang yang bercinta dan pernah berzina tidak layak berkahwin kecuali dengan orang yang pernah berzina juga. Mereka tidak layak untuk berkahwin dengan orang yang beriman. Allah berfirman: “Lelaki yang berzina (lazimnya) tidak ingin berkahwin melainkan dengan perempuan yang berzina atau perempuan musyrik; dan perempuan yang berzina itu pula (lazimnya) tidak ingin berkahwin dengannya melainkan oleh lelaki yang berzina atau lelaki musyrik. Dan perkahwinan yang demikian terlarang kepada orang-orang yang beriman.” (Surah an-Nur:Ayat3). Jadi orang yang pernah bercinta juga tidak sesuai untuk berkahwin dengan orang yang tidak pernah bercinta. Tidakkah itu suatu penghinaan dari Tuhan.
Pelajar: Jadi orang yang bercinta hanya layak berkahwin dengan orang pernah bercinta?
Ustaz: Itulah pasangan yang layak untuk dirinya kerana wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik.
Pelajar : Kami telah berjanji untuk sehidup semati.
Ustaz : Apa yang ada pada janji cinta? Berapa banyak sudah janji cinta yang musnah? lelaki, jangan diharap pada janji lelaki. Mereka hanya menunggu peluang keemasan sahaja. Habis madu, sepah dibuang. Pepatah itu diungkap kerana ia sering berulang sehingga menjadi pepatah.
Pelajar: Masihkah ada orang yang tidak bercinta pada zaman ini?
Ustaz: Ya, masih ada orang yang suci dalam debu. Golongan ini sentiasa ada walaupun jumlah mereka kecil. Mereka akan bertemu suatu hari nanti. Mereka ada pasangannya. Firman Allah S.W.T.: “Dan orang-orang lelaki yang memelihara kehormatannya serta orang-orang perempuan yang memelihara kehormatannya (yang memelihara dirinya daripada melakukan zina) Allah telah menyediakan bagi mereka semuanya keampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab:ayat 35).
Pelajar: Bagaimana kami?
Ustaz: Kamu masih ada peluang. Bertaubatlah dengan taubat nasuha. Berdoalah serta mohon keampunan dariNya . Mohonlah petunjuk dan kekuatan untuk mendapat redhaNya.
Pelajar: Kami ingin mendapat redha Tuhan. Tunjukkan bagaimana taubat nasuha.
Ustaz: Taubat yang murni. Taubat yang sebenar-benarnya. Taubat yang memenuhi 3 syarat:
1. Tinggalkan perbuatan maksiat. Putuskan hubungan cinta yang tidak diredhai Allah ini.
2. Menyesal. Menginsafi diri atas tindak tanduk hidup yang menjurus diri dalam percintaan.
3. Berazam. Bertekad di dalam hati tidak akan bercinta lagi dengan sesiapa kecuali dengan seseorang yang bernama isteri atau suami. Saatnya adalah setelah ijab Kabul.
Pelajar: Ya Allah. Hambamu telah tersesat jalan. Ampunilah dosa-dosa hambamu ini. Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Berilah kekuatan kepadaku untuk menghadapi godaan keremajaan ini. Anugerahkan kepadaku perasaan benci kepada maksiat. Hiasilah diriku dengan akhlak yang mulia. Ibu dan ayah, anakmu berdosa. Engkau jagaku sedari kecil dengan kasih sayang. Mengapa kucurahkan kasihku kepada orang lain. Oh tuhan, hambamu yang berdosa. Amin,Ya Rabb.
Ustaz: Moga Allah terima taubatmu.
Pelajar: Kita berpisah kerana Allah, kalau ada jodoh tidak ke mana.
Ustaz: Ya Allah, bantulah mereka. Kini mereka datang ke pintuMu, mencari redhaMu, terimalah taubat mereka.
Semoga dialog ini dapat diambil iktibar untuk kita, remaja kita, para sahabat, saudara-mara atau anak-anak sendiri. Usahlah lena dan terleka dengan cinta manusia yang hanya sementara melainkan cinta itu diikat dengan cara yang telah digariskan dalam syariah Islam. Dambakanlah cinta Allah, kerana dengan aturan-Nyalah kita hidup dan kita mati..InsyaAllah…
Terima kasih kepada: Finaz Yunus
Wallahualam.....